Dalam
dunia remaja, perasaan malu lambat laun mulai banyak dikikis.Terutama dalam berpenampilan. Dulu, remaja bakal ngibrit kalo
ketauan “saltum”
alias “salah
kostum”.
Yang laen pada pake seragam putih-putih sebagai pakaian kebangsaan upacara bendera,
Iha ini datang udah mah telat pake seragam
olahraga pula. Pastinya tengsin dong. Nah kini, justru
perbedaan model gitu yang banyak ditunjukkin oleh anak-anak gaul.
Katanya sih lagi tren. Biar harus nanggung malu, yang penting keren dan jadi pusat perhatian. Perkara kagak pantes, itu mah urusan belakangan !
Nggak salah kalo sebuah tren sering
kali lahir dari ‘perbedaan’ seseorang dalam berpenampilan. Awalnya nggak
pantes, tapi lama kelamaan dianggap wajar lalu banyak diikutin
karena mengundang perhatian dan akhirnya
jadi sebuah tren. Seperti dalam
fashion yang banyak menyeret remaja
untuk bergaya hidup anti malu sehingga tanpa risih memamerkan auratnya.
Gaya hidup anti malu remaja merembet
juga dalam perilaku maksiat yang jadi konsumsi publik.
Sering kita
ngeliat remaja pacaran yang kelewat hot di dalam angkot
atau mojok di taman kota.
Sialnya, sering kali gaya hidup anti malu
remaja dikasih label trendi biar banyak diminati.
Remaja putri yang berani malu mengumbar auratnya dianggap keren
sehingga layak dikasih tempat dalam kontes-kontes
kecantikan. Perilaku pacaran remaja yang menjurus ke arah seks bebas
pun dianggap wajar sehingga banyak diperlihatkan oleh idola-dola
remaja di layar kaca.
Padahal, rasa malu itu Iho yang cukup efektif menjaga kita dari perilaku yang nggak pantas. Daripada bikin malu, kita
akan terdorong untuk lebih berhati-hati dalam berbuat. Dengan
sendirinya, rasa malu juga
akan membedakan kita dengan hewan. Selama rasa malu masih menempel
di hati kita,
selama itu pula kita masih layak menyandang
predikat sebagai manusia. Karena hanya hewan yang nggak risih
'berbuat mesum' seenaknya di tempat
umum. Hanya hewan yang doyan mengumbar auratnya. Al Fudlail bin 'lyadh menyatakan:
Ketika manusia sudah tidak memiliki
rasa malu lagi maka tidak ada bedanya dengan
binatang.
Karena Malu Kita Mulia
Dalam Islam, rasa malu berhubungan erat dengan keimanan kita.
Rasulullah SAW bersabda, "Malu itu
termasuk keimanan dan keimanan
membawa kesurga. Sedangkan,perbuatan
keji termasuk kejelekan dan kejelekan
tempatnya di neraka”. (HR. Tirmidzi). ,
Karena itu, Islam meminta kita agar menjadikan
rasa malu sebagai penghias hidup. Hiasan yang membawa kebaikan bagi
pemiliknya dan menjadi jalan menuju surga.
Kalo kita
sudah berani menanggalkan rasa malu sama saja membuka pintu masuk
setan untuk mengajak bermaksiat dan nggak peduli
dengan nasihat dari orang-orang yang menyayangi kita. Imam Ibnul Qoyyim berkata, 'Antara dosa
dan sedikitnya rasa malu ada
keterkaitan yang sangat erat, maka setiap dari keduanya akan
menuntut yang lain. Barang siapa malu
kepada Allah ketika berbuat maksiat, Allah
pun akan malu menyiksanya pada hari kiamat
kelak. Dan barang siapa tidak punya rasa
malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, maka Allah
tidak akan malu menyiksanya kelak." (Ad-Da'u
Wad Dawa, hal 111).
Untuk
menumbuhkan rasa malu dalam diri kita, pertama kali yang mesti kita tanamkan adalah
keyakinan kalo Allah SWT selalu melihat apa yang kita perbuat.
Baik ketika sendiri di kamar mandi, mojok bareng
gebetan, atau
rame-rame
di diskotik. Allah SWT berfirman :” ..... perbuatlah apa yang kamu kehendaki ;
Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Fushilat [41):40)
Kalo kita
sudah menyadari akan kehadiran Allah SWT dan malaikat Raqib dan Atid dalam keseharian, insya Allah kita akan lebih terjaga dari perilaku maksiat. Pastinya
asyik ya kalo budaya malu juga tersemai dalam diri orang-orang
yang duduk di pemerintahan. Sehingga
mereka malu kalo kebijakan yang ditelorkannya bakal
bikin rakyat sengsara. Malu kalo pake aturan
kapitalis sekuler untuk ngurus rakyatnya.
Nah sahabat, saatnya bagi kita
untuk menghadirkan budaya malu dalam keseharian
kita.
Sehingga kita
pantas malu kalo nggak ikut menyuarakan kebenaran Islam dalam barisan
dakwah. Kita juga pantas malu
kalo mengkaji Islam hanya untuk konsumsi
sendiri. Padahal Allah SWT mewajibkan
kita
untuk mengenal Islam lebih dalam dan menyampaikannya kepada prang lain. Gaya hidup anti malu cuman bikin hidup kita nggak bermutu. Karena malu
menjadikan kita mulia dunia dan akhirat. Mau ? Yuk !!
Diambil dari Tabloid MU edisi 136 (oleh : Hafidz341, Tim LDS DPP HTI, Pimred
Majalah Remaja D’Rise)