Minggu, 26 Oktober 2014

GAYA HIDUP ANTI MALU


gambar malu isin

Dalam dunia remaja, perasa­an malu lambat laun mulai banyak dikikis.Terutama da­lam berpenampilan. Dulu, remaja bakal ngibrit kalo ketauan “saltum” alias “salah kostum”. Yang laen pada pake seragam putih-putih seba­gai pakaian kebangsaan upacara bendera, Iha ini datang udah mah telat pake sera­gam olahraga pula. Pastinya tengsin dong. Nah kini, justru perbedaan model gitu yang banyak ditunjukkin oleh anak-anak gaul. Katanya sih lagi tren. Biar harus nanggung malu, yang penting keren dan jadi pusat perhatian. Perkara kagak pantes, itu mah urusan belakangan !

Nggak salah kalo sebuah tren sering kali lahir dari ‘perbedaan’ seseorang dalam berpenampilan. Awalnya nggak pantes, tapi lama kelamaan dianggap wajar lalu banyak diikutin karena mengundang per­hatian dan akhirnya jadi sebuah tren. Seperti dalam fashion yang banyak me­nyeret remaja untuk bergaya hidup anti malu sehingga tanpa risih memamerkan auratnya.

Gaya hidup anti malu remaja me­rembet juga dalam perilaku maksiat yang jadi konsumsi publik. Sering kita ngeliat remaja pacaran yang kelewat hot di dalam angkot atau mojok di taman kota.

Sialnya, sering kali gaya hidup anti malu remaja dikasih label trendi biar banyak diminati. Remaja putri yang berani malu mengumbar auratnya dianggap ke­ren sehingga layak dikasih tempat dalam kontes-kontes kecantikan. Perilaku pa­caran remaja yang menjurus ke arah seks bebas pun dianggap wajar sehingga ba­nyak diperlihatkan oleh idola-dola remaja di layar kaca.

Padahal, rasa malu itu Iho yang cu­kup efektif menjaga kita dari perilaku yang nggak pantas. Daripada bikin malu, kita akan terdorong untuk lebih berhati-hati dalam berbuat. Dengan sendirinya, rasa malu juga akan membedakan kita dengan hewan. Selama rasa malu masih menem­pel di hati kita, selama itu pula kita masih layak menyandang predikat sebagai ma­nusia. Karena hanya hewan yang nggak risih 'berbuat mesum' seenaknya di tem­pat umum. Hanya hewan yang doyan mengumbar auratnya. Al Fudlail bin 'lyadh menyatakan: Ketika manusia sudah tidak memiliki rasa malu lagi maka tidak ada bedanya dengan binatang.

Karena Malu Kita Mulia
Dalam Islam, rasa malu berhubung­an erat dengan keimanan kita. Rasulullah SAW bersabda, "Malu itu termasuk ke­imanan dan keimanan membawa kesurga. Sedangkan,perbuatan keji termasuk keje­lekan dan kejelekan tempatnya di neraka”. (HR. Tirmidzi).           ,

emoticon malu isin

Karena itu, Islam meminta kita agar menjadikan rasa malu sebagai penghias hidup. Hiasan yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan menjadi jalan menuju surga. Kalo kita sudah berani menanggal­kan rasa malu sama saja membuka pintu masuk setan untuk mengajak bermaksiat dan nggak peduli dengan nasihat dari orang-orang yang menyayangi kita. Imam Ibnul Qoyyim berkata, 'Antara dosa dan sedikitnya rasa malu ada keterkaitan yang sangat erat, maka setiap dari keduanya akan menuntut yang lain. Barang siapa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, Allah pun akan malu menyiksanya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa tidak punya rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, maka Allah tidak akan malu me­nyiksanya kelak." (Ad-Da'u Wad Dawa, hal 111).

Untuk menumbuhkan rasa malu dalam diri kita, pertama kali yang mesti kita tanamkan adalah keyakinan kalo Allah SWT selalu melihat apa yang kita perbuat.
Baik ketika sendiri di kamar mandi, mojok bareng gebetan, atau rame-rame di diskotik. Allah SWT berfirman :” ..... perbuat­lah apa yang kamu kehendaki ; Sesungguh­nya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Fushilat [41):40)

Kalo kita sudah menyadari akan kehadiran Allah SWT dan malaikat Raqib dan Atid dalam keseharian, insya Allah kita akan lebih terjaga dari perilaku maksiat. Pastinya asyik ya kalo budaya malu juga tersemai dalam diri orang-orang yang duduk di pemerintahan. Sehingga mereka malu kalo kebijakan yang ditelorkannya bakal bikin rakyat sengsara. Malu kalo pake aturan kapitalis sekuler untuk ngurus rakyatnya.

Nah sahabat, saatnya bagi kita untuk menghadirkan budaya malu dalam keseharian kita. Sehingga kita pantas malu kalo nggak ikut menyuarakan kebenaran Islam dalam barisan dakwah. Kita juga pantas malu kalo mengkaji Islam hanya untuk konsumsi sendiri. Padahal Allah SWT mewajibkan kita untuk mengenal Islam lebih dalam dan menyampaikannya kepa­da prang lain. Gaya hidup anti malu cuman bikin hidup kita nggak bermutu. Karena malu menjadikan kita mulia dunia dan akhirat. Mau ? Yuk !!

Diambil dari Tabloid MU edisi 136  (oleh : Hafidz341, Tim LDS DPP HTI, Pimred Majalah Remaja D’Rise)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar